
Jakarta –
Pilar adalah tiang penopang yang biasa ditemukan pada bangunan. Pada rumah, pilar biasa dipasang di area fasad dan umumnya berwarna putih.
Pilar tidak dipakai pada semua desain rumah, biasanya tiang seperti ini ditemukan pada rumah bergaya klasik yang memiliki struktur bangunan yang besar.
Berbeda dengan tren saat ini, menurut Arsitek Denny Setiawan pilar pada zaman dahulu justru tidak digunakan pada rumah, melainkan untuk gedung pemerintahan, seperti gedung Mahkamah Agung, Istana Kepresidenan, dan tempat penting lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pada zamannya, sebenarnya tren bangunan-bangunan berpilar ini bukan untuk rumah. Kebanyakan kalau misalnya kamu liat Parthenon atau Pantheon di Yunani, kebanyakan (pilar) malah di bangunan-bangunan pemerintahan,” kata Denny kepada detikProperti belum lama ini.
Pilar pada gedung Mahkamah Agung atau gedung persidangan di Yunani melambangkan hakim agung mereka.
ADVERTISEMENT
Kini tren penggunaan pilar telah bergeser. Banyak bangunan mewah untuk hunian pribadi ataupun komersial juga menggunakan pilar pada struktur bangunannya.
Denny mengatakan pilar tersebut melambangkan kemakmuran dan kekayaan si pemilik bangunan tersebut. Oleh karena itu, kebanyakan rumah orang kaya atau hotel mewah menggunakan pilar pada fasad bangunannya.
“Tren klasik ini kemudian dianggap kebanyakan orang atau beberapa orang sebagai simbol dari sebuah kemakmuran atau kekayaan,” jelasnya.
Tren seperti ini bukan hanya ditemukan di Indonesia, sebelum itu, negara-negara di Eropa seperti Inggris dan Prancis telah memakai pilar sebagai simbol kesuksesan dan kekayaan pemiliknya.
“Kalau misalnya kamu masih ingat kata ‘kaum Borjuis’, nah itu asal katanya dari suatu kaum di salah satu kota Perancis yang rumahnya kebanyakan kayak gitu, pilar-pilar gitu,” ungkapnya.
Denny menilai tren pilar yang masuk ke Indonesia tidak sepenuhnya dari pengaruh penjajahan Belanda. Menurutnya tetap ada pengaruh dari rumah-rumah kaum Borjuis yang menginspirasi penggunaan pilar di Tanah Air.
“Belanda itu sebenarnya nggak terlalu banyak ya bangunan-bangunan berpilar, tapi mungkin ada ya. Tapi memang informasi tentang bagaimana masyarakat Eropa misalnya hidup, cerita-cerita tentang kehidupan Borjuis itu masuk ke Indonesia dan menginspirasi beberapa orang-orang kaya di Indonesia untuk bikin rumah-rumah kayak gitu,” ujarnya.
Selain karena sejarahnya yang panjang, pembuatan pilar juga membutuhkan biaya yang besar. Oleh sebab itu, yang bisa membuat pilar di rumah adalah orang-orang kaya.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(aqi/abr)
Leave a Reply